Presiden Prabowo Subianto telah meminta peninjauan rutin terhadap perjanjian dagang Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Hal ini disampaikan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, yang menjelaskan bahwa evaluasi tersebut perlu dilakukan setiap lima tahun sekali.
Permintaan peninjauan ini muncul setelah perjanjian IA-CEPA yang telah berlaku sejak tahun 2020. Evaluasi ini dinilai penting untuk menyesuaikan perjanjian dengan perkembangan ekonomi terkini dan kebutuhan strategis Indonesia.
Peninjauan IA-CEPA: Fokus pada Komoditas Strategis
Beberapa komoditas strategis akan menjadi fokus utama dalam peninjauan IA-CEPA. Indonesia mengusulkan agar lebih banyak mineral kritis masuk dalam cakupan perjanjian dagang dengan Australia.
Pembahasan mengenai peninjauan IA-CEPA ini telah dilakukan dalam pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese.
Airlangga menekankan pentingnya memasukkan kerja sama di bidang mineral kritis dalam negosiasi mendatang. Hal ini sejalan dengan upaya Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alamnya.
Meningkatkan Investasi dan Kerjasama di Sektor Mineral
Salah satu tujuan utama peninjauan IA-CEPA adalah meningkatkan investasi di Indonesia. Pemerintah menargetkan agar perjanjian yang direvisi dapat mencakup mineral kritis.
Airlangga menyatakan bahwa peningkatan investasi pasca-IA-CEPA menjadi tolak ukur keberhasilan. Inklusi mineral kritis diharapkan dapat memperkuat kerja sama ekonomi kedua negara.
Lithium dan mangan dari Australia menjadi contoh komoditas yang menjadi perhatian. Indonesia saat ini mengimpor lithium dari Australia untuk diolah di kawasan industri Morowali.
Dampak Positif Peninjauan IA-CEPA bagi Indonesia
Dengan memasukkan mineral kritis seperti lithium dan mangan ke dalam IA-CEPA, diharapkan perdagangan komoditas ini akan lebih lancar. Hal ini akan mendukung perkembangan industri pengolahan di Indonesia.
Peningkatan kemudahan perdagangan mineral kritis akan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia. Ini akan menciptakan peluang kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Langkah ini juga selaras dengan upaya Indonesia dalam mengembangkan industri hilir. Pengolahan mineral kritis di dalam negeri akan meningkatkan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Secara keseluruhan, peninjauan IA-CEPA diharapkan dapat memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia-Australia. Dengan memasukkan mineral kritis dalam perjanjian, kedua negara dapat saling menguntungkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Proses negosiasi dan peninjauan akan memerlukan waktu dan pertimbangan yang matang. Namun, komitmen kedua negara untuk meningkatkan kerja sama ekonomi diyakini akan menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan.
