Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada Selasa, 18 Maret 2025, hingga menyentuh level terendah 6.011,8. Hal ini memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt) pukul 11:19:31 WIB.
Penurunan IHSG ini memicu kekhawatiran di berbagai sektor, termasuk industri otomotif. Dampaknya terhadap industri otomotif dan langkah-langkah antisipasi menjadi sorotan.
Dampak Anjloknya IHSG terhadap Industri Otomotif
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam, mengungkapkan harapannya agar masalah ini segera terselesaikan. Ia menekankan pentingnya menciptakan iklim investasi yang kondusif di Indonesia.
Bob Azam juga optimistis terhadap potensi pasar otomotif Indonesia. Ia melihat peluang besar di pasar domestik yang masih memiliki populasi muda dan permintaan yang terus meningkat.
Selain itu, potensi Indonesia dalam sektor energi terbarukan juga menjadi poin penting. Sumber daya alam yang melimpah, seperti hutan dan energi geothermal, dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
IHSG akhirnya menguat pada Kamis, 20 Maret 2025, sebesar 63,85 poin (1,01%) ke posisi 6.375,51. Penguatan ini didorong oleh respons positif pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) dan The Fed yang mempertahankan suku bunga acuan.
Harapan dan Strategi Industri Otomotif Indonesia
Bob Azam berharap pasar otomotif tahun ini akan relatif sama dengan tahun lalu. Ia juga menekankan pentingnya insentif pemerintah untuk mendorong daya beli konsumen domestik.
Insentif konsumen, menurut Bob Azam, akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Pemerintah pun mengakui keterbatasan fiskal dalam memberikan insentif tersebut.
Pengalaman masa pandemi COVID-19 menunjukkan efektivitas insentif dalam meningkatkan pendapatan negara. Bahkan di negara maju seperti Jepang, insentif terbukti mampu meningkatkan pendapatan dalam waktu singkat.
Bob Azam menyoroti pentingnya insentif bagi industri otomotif sebagai langkah strategis untuk meningkatkan pendapatan negara. Peningkatan pajak tidak selalu menjamin peningkatan pendapatan, bahkan bisa sebaliknya.
Dengan potensi pasar domestik yang besar dan dukungan kebijakan yang tepat, industri otomotif Indonesia diharapkan tetap tumbuh positif. Pemerintah dan pelaku industri perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, anjloknya IHSG memang sempat menimbulkan kekhawatiran, namun pemulihan yang cepat dan potensi pasar domestik yang besar memberikan optimisme bagi industri otomotif Indonesia. Dukungan pemerintah melalui insentif dan kebijakan yang tepat akan menjadi kunci keberhasilan sektor ini di masa depan.
