Kecerdasan anak merupakan hal yang sangat penting bagi masa depan mereka. Selama ini, perhatian orangtua sering tertuju pada asupan DHA untuk meningkatkan kecerdasan anak. Namun, peran zat besi dalam perkembangan otak anak ternyata tak kalah krusial.
Pada 1000 hari pertama kehidupan, zat besi berperan vital dalam pembentukan selubung dan cabang sel saraf. Zat besi juga sangat penting untuk metabolisme sistem saraf dan proses pembawa sinyal di otak. Semua proses ini berpengaruh signifikan terhadap perkembangan kognitif, motorik, sosioemosional, dan respon fisiologis anak.
Kekurangan zat besi, atau anemia defisiensi besi, berdampak serius pada perkembangan otak anak, terutama di bawah usia 5 tahun. Hal ini dapat mengganggu daya pikir, fokus, dan memori belajar anak. Data menunjukkan bahwa 1 dari 3 anak di Indonesia berisiko mengalami kekurangan zat besi.
Gejala Kekurangan Zat Besi pada Anak
Anak yang kekurangan zat besi seringkali menunjukkan gejala seperti lemas, pucat, dan kesulitan berkonsentrasi. Orangtua perlu waspada terhadap tanda-tanda ini dan segera berkonsultasi dengan dokter jika anak menunjukkan gejala tersebut. Selain itu, anak juga bisa mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
Anemia defisiensi besi dapat menyebabkan anak tumbuh dengan tingkat kecerdasan yang lebih rendah, kemampuan motorik halus yang terhambat, dan berisiko mengalami gangguan perkembangan seperti autisme. Dampak jangka panjangnya pun cukup serius, yaitu kesulitan bersaing di dunia kerja saat dewasa.
Makanan Sumber Zat Besi untuk Anak
Kekurangan zat besi bukan hanya masalah anak dari keluarga kurang mampu. Anak dari keluarga dengan ekonomi baik pun berpotensi mengalaminya. Untuk itu, pemberian makanan bergizi seimbang yang kaya zat besi sangat penting.
Sumber zat besi hewani yang baik antara lain daging sapi, telur, hati ayam dan sapi, serta susu yang difortifikasi. Sementara itu, sumber zat besi nabati yang dapat dikonsumsi meliputi bayam, kacang merah, dan kacang almond.
Susu pertumbuhan yang difortifikasi zat besi terbukti efektif membantu memenuhi kebutuhan zat besi harian anak. Berbagai penelitian di negara berkembang seperti Meksiko, Chile, dan India menunjukkan bahwa pemberian susu berfortifikasi zat besi dapat menurunkan angka anemia defisiensi besi.
Pentingnya Skrining dan Pencegahan
Selain pola makan seimbang, skrining rutin untuk mendeteksi risiko kekurangan zat besi pada anak sangat penting. Deteksi dini dapat mencegah dampak buruk kekurangan zat besi terhadap perkembangan anak. Konsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai skrining dan asupan zat besi yang tepat bagi anak.
Ingatlah bahwa pencegahan jauh lebih baik daripada pengobatan. Dengan memberikan asupan nutrisi yang tepat, termasuk zat besi, kita dapat membantu anak tumbuh sehat dan cerdas, siap menghadapi tantangan di masa depan. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk mendapatkan panduan yang tepat dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak.
Tips Memenuhi Kebutuhan Zat Besi Anak
Berikut beberapa tips untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi anak: Berikan variasi makanan kaya zat besi setiap hari. Pastikan anak mengonsumsi makanan yang kaya vitamin C untuk meningkatkan penyerapan zat besi. Hindari pemberian teh atau kopi bersamaan dengan makanan kaya zat besi karena dapat menghambat penyerapannya.
Awasi asupan makanan anak agar seimbang dan bergizi. Jika diperlukan, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk mendapatkan rekomendasi suplemen zat besi yang tepat. Selalu pantau perkembangan dan kesehatan anak secara rutin.





